Senin, 25 Februari 2013

Dunia itu Fatamorgana



Banyak sekali ayat ataupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang menyatakan tentang perbandingan antara keutamaan dan kenikmatan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia, yang mana akan didapati betapa jauhnya kemuliaan diantara keduanya, bahkan tidak sedikit akan adanya celaan terhadap kehidupan dunia. Akan tetapi celaan tersebut tidaklah ditujukan kepada siang dan malamnya, bumi tempat dunia ini berada, lautan, sungai-sungai, hutan dan yang lainya karena semua itu adalah nikmat Allah Ta'ala bagi hamba-hambaNya, tetapi celaan itu ditujukan kepada polah tingkah anak Adam dan penghuninya terhadapnya.
Allah Ta'ala berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرُُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرُُ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ
”ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri diantara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak”. (QS. Al-Hadid : 20)

Dunia ini hanyalah jalan menuju surga dan neraka, tempat manusia mengumpulkan perbekalan untuk menuju kehidupan abadi, dan bertemu Allah Ta'ala Sang Pencipta alam semesta, Yang akan menilai dan menerima bekal tersebut serta mengganjarnya, jika baik maka nikmat surga yang akan ia dapatkan dan jika buruk maka azdab yang pedihlah yang akan dirasakan.


Sikap Manusia Terhadap Kehidupan Dunia

Pertama ; Orang-orang yang mengingkari adanya negeri pembalasan setelah alam dunia. Dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ لاَيَرْجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَاتِنَا غَافِلُونَ {7} أُوْلَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ {8}
”Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tentram dengan kehidupan itu serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami , mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Yunus : 7-8)

Kedua; Orang-orang yang meyakini adanya alam pembalasan setelah kematian. Merekalah orang-orang Yang mengikuti para Rasul. Dalam hal ini mereka tergolongkan menjadi tiga, yaitu:

Zhalimun linafsih, orang yang menzhalimi diri sendiri. Bagi mereka dunia adalah segalanya, terbuai oleh keindahannya yang menipu. Mereka ridha, murka, setia (berwala’) dan benci (bara’) karena tendensi dan motivasi dunia semata. Mereka beriman kepada akhirat secara global tetapi mereka tidak mengerti tujuan hidup didunia, bahwa tidak lain ia adalah suatu tempat untuk berbekal menuju kehidupan berikutnya.

Muqtashid, mereka adalah orang-orang yang menikmati dunia dari arah yang dibenarkan, mubah. Mereka melaksanakan seluruh yang wajib, akan tetapi membiarkan dirinya bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak mendapatkan hukuman akan tetapi derajat mereka rendah.
Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu berkata : “Seandainya derajat surgaku tidak dikurangi pasti aku akan menantang kalian dalam hal kehidupan dunia. Tetapi aku mendengar Allah mencela suatu kaum dalam firman-Nya yang artinya :”Kalian sia-siakan rezki kalian yang baik-baik hanya untuk kehidupan didunia saja dan kalian bersenang-senang dengannya”. (QS. Al-Ahqaf : 20)

Sabiqun bil khairat bi idznillah. Mereka adalah orang-orang yang paham tujuan dari dunia dan beramal sesuai dengannya. Mereka mengerti bahwa Allah menempatkan hamba-hambaNya dinegeri ini untuk diuji, siapa yang paling baik amalnya, yang paling zuhud kapada dunia dan paling cinta kepada akhirat.
Firman Allah Ta'ala :
إِنَّا جَعَلْنَا مَاعَلَى اْلأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً {7}
”Dan sesungguhnya Kami jadikan apa saja yang ada dimuka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya kami uji siapa diantara mereka yang paling baik amalnya”. (QS. Al-Kahfi : 7).
Golongan yang ketiga ini merasa cukup dengan mengambil dunia sekadar sebagai bekal seorang musafir.


Bahaya Mencintai Dunia

Cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah Ta'ala dan berdzikir kepadaNya, barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya dia termasuk dalam kelompok orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah, pasti akan dikuasai setan dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan padahal ia baru melakukan sedikit saja atau bahkan tidak melakukannya sama sekali.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu pernah berkata :”Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan”.
Ulama yang lain berkata :”Cinta dunia itu pangkal dari segala kesalahan dan pasti merusak agama ditinjau dari berbagai sisi, diantaranya :

Pertama; berakibat pengagungan terhadap dunia secara berlebihan, padahal ia di sisi Allah sangatlah remeh, adalah termasuk dosa yang sangat besar mengagungkan sesuatu yang di anggap remeh oleh Allah Ta'ala.

Kedua; Allah telah melaknat, memurkai dan membencinya, kecuali yang ditujukan untuk Allah. barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci Allah berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa dan kemurkaan dari Allah Azza wa Jalla.

Ketiga; orang yang cinta dunia akan lebih cenderung menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya, sehinggga ia terjatuh dalam kesalahan, yaitu menjadikan sarana sebagai tujuan dan berusaha untuk mendapatkan dunia dengan amalan akhirat.
Allah Ta'ala berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {16}
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)
demikianlah bahwa cinta dunia dapat menghalangi seseorang dari pahala, merusak amal, bahkan bisa menjadikannya orang yang pertama kali masuk neraka.

Keempat; mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat, ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya.
Ada yang disibukkan oleh kecintaannya dari iman dan syari’at, dari kewajiban-kewajiban yang seharusnya ia laksanakan, atau dalam waktu yang tidak tepat, atau hanya sebatas pelaksanaan lahiriahnya saja, paling tidak kecintaanya terhadap dunia akan melalaikan hakikat kebahagiaan seorang hamba yaitu kosongnya hati selain untuk mencintai Allah dan diamnya lisan selain berdzikir kepadaNya, juga ketaatan hati dan lisan dengan Rabbnya.

Kelima; berlebihan mencintai dunia akan menjadikan harapan utama pelakunya ketika hidup adalah dunia itu sendiri.

Keenam; orang yang berlebihan mencintai dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat.
Mereka disiksa di tiga negeri; di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Didunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam barzakh mereka diazab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan. Di sana tidak sesuatupun yang menggantikan kedudukan kecintaannya kepada dunia, kesedihan, kedukaan, dan kerugian terus-menerus mencabik-cabik ruhnya, seperti halnya cacing dan belatung melakukan hal yang sama kepada jasadnya, demikianlah pecinta dunia akan di azab dikuburnya, dan juga pada hari akhirat nanti yaitu pada hari pertemuan dengan Rabbnya.
Allah Ta'ala berfirman:
فَلاَتُعْجِبُكَ أَمْوَالُهُمْ وَلآَأَوْلاَدُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ {55}
”Janganlah engkau ta’jub dengan harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir”. (QS. a-Taubah : 55)

Menafsirkan ayat diatas sebagian ulama salaf berkata :”Mereka diazab dengan jerih payah dan kerja keras dalam mengumpulkannya. Nyawa mereka akan melayang karena cintanya dan mereka menjadi kafir karena tidak menunaikan hak Allah sehubungan dengan kemegahan dunia itu”.

Ketujuh; orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling tidak mengerti, bodoh, dungu dan tidak berakal.
Karena mereka lebih mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal itu dengan kenikmatan yang semu. Manusia yang berakal cerdas (baca : bertaqwa) tentunya tidak akan tertipu dengan hal semacam ini.


Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang, disangka memiliki hakikat yang tetap padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai.

Dunia juga sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu pun. Justru yang ia dapati adalah Allah Ta'ala dengan hisabNya, dan Allah sangat cepat hisabNya.

Maka saudaraku, marilah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, untuk meraih ridha Allah Ta'ala, surgaNya dan apa-apa yang telah dijanjikanNya serta keutamaan-keutamaan di alam akhirat yang kekal abadi, yang mana Allah Ta'ala telah menegaskan dalam firmanNya bahwa :
وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُوَأَبْقَى {17}
”Dan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal”.(QS. al-A’laa: 17),
Jangan sampai kita tertipu oleh tipu daya setan yang senantiasa menggoda anak cucu adam agar tergelincir, sehingga terjerumus kepada kesesatan, penyimpangan, memperturutkan segala keinginan hawa nafsu sehingga lupa hak-hak Allah Ta'ala yang harus ditunaikan serta lupa dari kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah terlihat oleh pandangan mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbayangkan dalam benak hati manusia. Itulah kenikmatan yang Allah Ta'ala janjikan bagi hamba-hambaNya yang mendapatkan rahmat dariNya. Wallahu a’lam.

Oleh : Abu Thalhah Andri Abd Halim, Lc.
Sumber: Di nukil dari “Tazkiatun-Nufus” (Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim dan Imam al-Gazhali), dengan sedikit perubahan redaksi.

Jumat, 22 Februari 2013

Adab Memberi Nama untuk Sang Buah Hati


Seorang muslim hendaknya mengetahui adab memberi dan memilih nama dan kunyah (nama panggilan, yang diawali ‘abu’ atau ‘ibnu’, atau yang lainnya) untuk buah hatinya. Memberi nama yang baik adalah termasuk kebaikan orang tua terhadap anak. Di masyarakat, terkadang muncul berbagai problema dikarenakan nama yang disandang. Oleh karena itu, sangat baik jika kita memperhatikan beberapa adab yang berkaitan dengan memberi nama. Di antara adab-adab tersebut adalah.

1. Memberi Nama pada Usia Tujuh Hari.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh (dari kelahirannya), dicukur rambutnya dan diberi nama”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi). Hadits tersebut menunjukkan disunnahkannya aqiqah, mencukur rambut bayi yang lahir dan diberi nama pada hari ke tujuh dari kelahirannya. Sebagai misal, jika anak  lahir hari Senin, hari Ahad yang akan datang itulah hari ke tujuh).               

2. Memilih Nama yang Baik

Di antara nama yang disukai Allah Ta’ala adalah nama yang tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Nama yang paling disukai Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman”. (HR. Muslim dari Ibnu Umar )

Demikian juga nama baik lainnya, seperti Muhammad, Ahmad, Mahmud, Abdurrahim, dan lain-lain. Mendapat nama yang baik merupakan salah satu hak anak dari orangtuanya. Hal ini juga termasuk perlakuan baik orangtua terhadap anak, sehingga jangan sampai nama tersebut menjadi aib bagi si buah hati  ketika dewasa nanti. Dan yang memprihatinkan adalah bahwa sebagian besar orangtua zaman sekarang justru terobsesi (atau jelasnya menjadi korban) oleh nama-nama vigur mereka yang tidak jelas baik dari kalangan artis, pemain-pemain bola ataupun lainnya, sehingga mereka memberi nama buah hati mereka dengan nama-nama yang tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  

3. Memilih Nama yang Islami.

Orangtua seharusnya memilih nama untuk anaknya dengan nama Islami yang menunjukkan identitas keislamannya. Jangan sampai orangtua menamakan anaknya dengan nama-nama dewa, orang kafir atau dengan nama yang menyerupai nama mereka. Kita lihat di negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya mereka memiliki nama seperti Simon, Khauri, David, Alex, Dewa, Dewi, Isis, Osiris, Widhi, dan lain sebagainya yang mengadopsi dari nama-nama yang tidak Islami. Oleh karena itu yang paling utama dan wajib adalah memilih dan memberi bagi sang buah hati dengan nama-nama yang Islami.

4. Tidak Memberikan Nama yang Terlarang.

Di antara nama  yang terlarang ialah sebagaimana tercantum dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika umurku panjang aku akan melarang seseorang dinamai dengan nama ‘Rabaah’ (arak), ‘Najih’ (yang sabar), ‘Aflah’ (yang beruntung), ‘Naafi’ (yang bermanfaat), dan ‘Yasaar’ (kemudahan)”. (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan ia menshahih-kannya dan disetujui adz-Dzahabi dan lain-lain)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan sebab terlarangnya nama-nama tersebut dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “.… Sebab jika kamu bertanya , “Apakah di sana ada dia (Yasaar = kemudahan)? “Dan ternyata memang dia tidak ada, maka dia akan menjawab , “Tidak ada (kemudahan)”. (HR. Muslim)

Di antara perkara yang termasuk dalam larangan ini adalah nama-nama yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan penentangan terhadap Allah Ta’ala, sebagaimana yang tertera dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Nama terjelek di sisi Allah adalah seorang yang diberi nama ‘Malikul Amlaak’ (raja diraja). Sesungguhnya tiada penguasa kecuali hanya Allah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara nama yang sejenis adalah ‘Syahin Syah’ (raja diraja persia), ‘Qadhil Qudhaat’ (hakimnya para hakim), atau yang bernama Fir’aun, dan lain-lain.  

5. Tidak Memberikan Nama yang Buruk.

Di antara nama yang buruk adalah :‘Kalb’ (anjing), ‘Kilaab’ (anjing-anjing), ‘Jumrah’ (kerikil), ‘Hayawaan’ (hewan), ‘Ghurab’ (burung gagak), ‘Zurni Laila’ (kunjungi saya di malam hari), ‘Ahzan’ (paling sedih), ‘Himar’ (keledai), ‘Ashiyah’ (wanita yang durhaka), ‘Dzalimin’ (orang yang aniaya) dan lain sebagainya. Nama seperti ini tidaklah berdasarkan petunjuk agama Islam dan boleh jadi nama-nama buruk tersebut menjadi sebab munculnya kesulitan dan problem bagi seseorang di masa hidupnya.

Demikian halnya, sudah sepantasnya untuk menjauhkan gelar-gelar yang tidak Islami seperti : Beik, Pasha, Afandi (gelar Turki) dan seterusnya. Karena gelar-gelar seperti ini akan menanamkan perasaan angkuh dan kagum pemiliknya.

6. Tidak Menggabungkan Nama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Julukannya Abul Qasim.

Dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pakailah namaku dan jangan pakai julukanku (kunyahku).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikian pula beliau pernah melarang menggabungkan antara nama dan julukan beliau yakni dengan memberi nama Muhammad Abul Qasim sebagaimana hal tersebut disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi, dan beliau menyatakan shahih.

Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan tersebut berlaku ketika beliau masih hidup. Adapun setelah beliau wafat, maka larangan tersebut tidak berlaku lagi. Namun, pendapat yang lebih kuat insya Allah tidak menggabungkan julukan nama dan julukan beliau serta akan lebih baik jika tidak menggunakan julukan (kunyah) Abul Qasim. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Nabi yang disebutkan dan diperkuat lagi dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , “Pakailah namaku dan jangan pakai julukanku. Sesungguhnya aku adalah seorang pembagi yang membagi-bagikan di antara kalian”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

7. Menukar Nama yang Buruk dengan Nama yang Baik.

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seseorang yang memiliki nama buruk, beliau pun menukar nama tersebut. Demikian juga jika beliau mendengar nama yang kurang baik, beliau langsung menukarnya dengan nama yang lebih baik. Di antara contohnya adalah beliau pernah menukar nama ‘Ashiyah (wanita yang durhaka), dan bersabda, “Namamu ‘Jamilah’ (wanita yang cantik).” (HR. Muslim), Beliau juga menukar nama ‘Barrah’ dan bersabda, “Berilah ia nama Zainab”.(HR. Muslim).

Demikianlah beliau menukar setiap nama yang mengandung makna celaan, aib, dan cacian. Bahkan, beliau menukar nama yang mengandung makna pujian sebagaimana beliau menukar nama ‘Barrah’ (wanita yang senantiasa berbuat baik) dengan nama Zainab dengan alasan yang telah disebutkan. Nama Barrah juga mengandung pujian terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, nama-nama tersebut ditukar dengan yang lebih baik dan tidak terlarang.

8. Boleh Memberikan Julukan atau Kunyah kepada Anak Kecil dan Seseorang yang Belum Punya Anak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi julukan (kunyah) kepada saudara Anas yang pada saat itu masih kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hai Abu ‘Umair (saudara Anas)! Apa yang telah dilakukan Nughair (burung kecil)? (HR. al-Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  juga pernah memberikan julukan (kunyah) (Ummu Abdillah) kepada istrinya tercinta ‘Aisyah  dengan nama keponakannya ‘Abdullah anak kakaknya yang hal itu tersebut dalam sabdanya, “Julukanmu Ummu Abdillah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Padahal sudah ma’lum bahwa Ummul Mukminin Aisyah adalah telah dikehendaki tidak memiliki keturunan.

9. Tidak Memanggil Seseorang dengan Sebutan yang Ia Benci.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya , “…Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk …” (QS. al-Hujuraat : 11)

Dalam Ayat tersebut sangat tegas menjelaskan kepada kita bahwa seorang muslim dilarang memanggil sesama saudara atau temannya dengan sebutan yang ia benci, karena hal tersebut bukanlah adab yang terpuji dalam bergaul dengan sesama. Bahkan memanggil dengan nama atau gelar yang ia benci atau dengan sebutan yang membuatnya emosi akan menimbulkan permusuhan di antara mereka. Terlebih lagi apabila sebutan tersebut menunjukkan aib yang terdapat pada diri orang tersebut, seperti sebutan si pincang, si buta, si jenggot, si botak, si gondrong, si belang, si pendek atau panggilan-panggilan yang lain yang tidak disukai oleh orang yang dipanggil.

Sudah seyogyanya kita memanggil anak-anak dan saudara-saudara kita dengan panggilan-panggilan yang ia sukai dan menjadi kehormatan bagi dirinya, terlebih lagi hal itu akan menjadikan dirinya bahagia dan senang dengan apa yang kita lakukan. Maka bisa dipastikan ukhuwah akan semakin rekat, kasih sayang akan semakin tumbuh, dan cinta sesama orang yang beriman yang didasari karena Allah Ta’ala akan semakin kuat. Wallahu a’lam 

Oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, Lc.
Disadur dan sarikan dari kitab : ‘Mausuu’ah al-Adaab al-Islamiyah’, karya Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada
bismillah ...ini adalah blog Abu Thalhah Andri Abdul Halim, Lc.